Pengalaman Belajar SEO Blog Warung4d sudah berjalan kurang lebih selama 2 Tahun dan Saya mencoba Belajar SEO Sudah sekitaran 2 Bulan selama itu pula saya belajar sangat banyak melalui blog ini. Walaupun saya bukanlah blogger master yang berpengalaman (Belajar SEO 3 Bln aja belum), namun disini saya tetap ingin berbagi pengalaman ngeblog serta saran-saran khususnya untuk blogger-blogger pemula yang baru terjun kedunia blogging.

Saya yakin diluar sana banyak blogger yang lebih hebat ilmunya baik dari segi konten, marketing, dan penghasilan. Karena itu silahkan ambil sisi positifnya saja dari apa yang akan saya bagikan disini.

Saya mulai dari pertanyaan: apakah tahun 2017-2018 sudah terlambat untuk belajar SEO ?

Jujur saya sendiri merasa agak telat baru Belajar SEO di akhir tahun 2016. Saya baru mulai Hanya hobi saja untuk menulis dan berbagi prediksi togel di penghujung tahun 2017 ini ada kepikiran ingin belajar SEO Karna tergiur dengan Hadia yang lumayan Besar, dan saya baru sadar ternyata mencari trafik di tahun 2017 itu begitu sulit.

Jangankan mengincar high volume keyword, untuk mendapat ranking halaman pertama dari long-tail keyword saja lumayan sulit, logikanya yang mengincar long-tail tentu bukan hanya Anda, ribuan blogger lain juga melakukan hal yang sama. Apalagi menggeser top-top blogger yang sudah mendominasi short-tail keyword selama bertahun-tahun. Satu-satunya harapan mungkin kalau Google mengubah algoritma penentuan hasil pencariannya.

Lalu untuk Anda yang baru berencana membuat blog di tahun 2017/2018 apa yang harus dilakukan?

Inilah beberapa saran yang bisa saya berikan berdasarkan pengalaman pribadi dan pasti akan saya lakukan seandainya saya membuat blog dari nol lagi:

1. Jangan menelan mentah-mentah 100% ajaran blogger internet marketing atau orang yang mengaku ahli SEO

Tidak selamanya apa yang para internet marketer ajarkan itu efektif untuk blog Anda (termasuk ajaran saya), jadilah fleksibel menyesuaikan dengan keadaan.

Satu-satunya pedoman yang paling efektif adalah hasil analytic dari blog Anda sendiri. Seimbangkan antara kualitas konten dengan data yang ada, jangan hanya membuat konten sesuka hati namun secara data (trafik) tidak mendukung.

Kalau data Anda membuktikan trafik sosial lebih berpotensi maka doronglah trafik tersebut (push) sebaik mungkin, sebaliknya kalau SEO memberi hasil yang lebih baik maka maksimalkan potensi SEO blog Anda. Kalau artikel tema A terbukti tidak mendatangkan trafik ya jangan diteruskan (kecuali Anda tidak peduli dengan urusan trafik, tentu lain cerita).

Saya pernah membaca quote yang menggelitik tentang mencari trafik:

“Bagaimana cara mendapatkan trafik yang efektif? Buatlah artikel tentang cara/tutorial mendatangkan trafik.”

Artinya apa yang dicari orang itu jauh lebih penting dari apa yang ingin Anda tulis. Jika Anda menjadikan SEO sebagai sumber trafik utama Anda, maka buanglah ego Anda, jangan menulis semau-maunya karena dalam SEO itu yang paling penting adalah apa yang Anda tulis itu dicari orang (melalui mesin pencari).

Tidak peduli seberapa banyak dan berkualitas tulisan yang Anda buat, blog Anda tidak akan menghasilkan trafik (organik) jika hal itu tidak dicari orang.

Selain itu jangan pernah mencurangi (cheat) sistem Google. Google sangat membenci orang yang berusaha mengakali sistem/algoritmanya. Ada satu nasihat yang selalu saya ingat yaitu “Google itu lebih pintar dari Anda, jangan coba-coba membodohi Google”.

Diluar sana banyak blogger-blogger yang melakukan praktek-praktek black-hat seperti membeli blog bekas, membeli backlink (membayar blogger lain untuk memberi link ke blognya), saling bertukar link dengan blogger lain, termasuk membeli akun AdSense untuk memonetize blognya.

Jadi mereka sengaja membeli akun AdSense dan blog bekas yang nantinya diisi artikel-artikel copas (spin), lalu membayar blog lain untuk memberikan link ke blog tersebut (link building) supaya mendapatkan banyak trafik dan uang.

Itulah yang terjadi kalau seseorang tahu bagaimana cara sebuah sistem/algoritma bekerja, orang akan selalu mencari celah untuk mengakali sistem yang ada. Apakah Google tahu? Ya, namun masih dibiarkan saja. Hal seperti ini hanya efektif untuk jangka pendek, Google semakin hari semakin pintar, walaupun backlink masih menjadi faktor penting dalam penentuan peringkat, nantinya pengaruh backlink akan semakin kecil dibandingkan dengan konten dan authority.

Dan biasanya mereka yang membeli akun AdSense dari orang lain tidak akan dapat menarik uang/dollar (revenue) dari akun GA tersebut. Jadi memang sengaja dibiarkan saja namun uangnya tidak bisa ditarik.

Jika Anda ingin hasil yang baik untuk jangka panjang, maka lakukanlah white-hat SEO secara natural, lebih baik fokus pada marketing alami seperti posting sosial media, forum marketing, smart blogwalking, guest posting dengan sewajarnya (no spam).

“The best link building is no link building”. Kata link building itu sendiri seperti praktek black-hat, karena kita dengan sengaja membuat orang/website lain memberikan backlink ke blog kita. Padahal backlink terbaik adalah backlink yang diberikan oleh orang lain secara sukarela/natural (karena konten kita berkualitas).

Selain itu apa yang biasanya dikatakan blog-blog internet marketing juga tidak seindah realitanya. Misalnya guest posting:

Jika saya dan Anda punya blog tentang kesehatan, lalu Anda ingin melakukan guest posting, tentu Anda akan mencari blog yang relevan dengan blog Anda dan ketemulah dengan blog saya (misal).

Anda minta artikel Anda di submit di blog saya (guest post) padahal bisa dibilang blog yang topiknya relevan itu sama seperti kompetitor, kemungkinan besar saya dan Anda akan mengincar keyword yang sama di search engine. Apakah saya akan dengan senang hati menerima guest post Anda dimana artikel tersebut justru bisa membahayakan posisi saya sendiri di mesin pencari?

Maukah Anda menerima guest post dari blogger lain yang topiknya sama dengan blog Anda dan juga mengincar keyword yang sedang Anda incar? Secara umum mana mau kompetitor ngasih backlink ke blog lain seperti itu.

Tentu itu hanya contoh, saya tidak tahu apakah ada kejadian seperti itu atau tidak, namun tetap saja ada kecenderungan kompetitif seperti hal diatas. Intinya adalah jangan menelan mentah-mentah 100% teori yang ada, jadilah realistis sesuai dengan kondisi dilapangan.

Pesan moralnya adalah teori yang diajarkan tidak selalu seindah praktek dilapangan, pengalaman tetaplah guru terbaik. Tes dan praktekan semua ilmu yang sudah Anda ketahui, Anda akan segera tahu mana ilmu/teori yang sudah kadaluarsa dan mana yang lebih baik sesuai dengan keadaan.